Kadang dalam hidup, hati manusia ingin membalas.
Saat dihina, difitnah, direndahkan, atau diperlakukan tidak adil… daging ini ingin melawan.
Ingin menunjukkan kekuatan.
Ingin membuktikan siapa yang lebih tinggi.
Aku pernah berkata dalam doa:
“Tuhan… bolehkah aku menginjak kepala orang ini?
Aku mampu.
Aku punya posisi lebih tinggi dari dia.”
Aku mampu memasukan mereka ke dalam sel Tuhan
Tapi ada yang tidak tahu apa apa disana tidak kah kau mengasihi mereka seperti Aku mengasihimu anak Ku?
Namun di tengah kemarahan itu, Tuhan menaruh satu firman dalam hati:
“Pembalasan adalah hak-Ku.”
Lalu seakan Tuhan bertanya kembali:
“Siapakah pemegang kendali atas hidupmu, anak-Ku?”
Dan dengan singkat aku menjawab:
“Engkau, Tuhan.”
Kemudian Tuhan kembali mengingatkan:
“Apakah bagianmu, anak-Ku?
Bukankah bagianmu memuji dan menyembah Aku?
Hidupmu adalah korban persembahan.
Ikutlah Aku…
Biarkan orang mati mengurus orang mati.
Aku akan menjadikan engkau penjala manusia.”
Hari itu aku sadar…
Tidak semua peperangan harus dibalas dengan tangan manusia.
Ada peperangan yang harus diserahkan kepada Tuhan.
Karena orang yang berjalan bersama Kristus bukan hidup menurut emosinya,
melainkan hidup menurut perkataan Tuhan.
Walaupun daging meronta.
Walaupun hati terluka.
Walaupun air mata jatuh diam-diam.
Tetapi ada kekuatan besar dalam seseorang yang memilih diam di dalam Tuhan.
Diam bukan berarti lemah.
Diam bukan berarti kalah.
Kadang diam adalah bentuk iman tertinggi —
saat seseorang percaya bahwa Tuhan melihat semuanya.
Seperti ketika nabi Elia membuka mata bujangnya,

dan mereka melihat bala tentara sorga mengelilingi kota itu.
Yang selama ini tidak terlihat… ternyata Tuhan sedang menjaga.
Begitu juga hari ini.
Mungkin ada orang yang terlihat sendirian.
Tidak membalas.
Tidak melawan.
Tidak berteriak.
Namun siapa tahu…
Tuhan sendiri sedang berdiri di belakangnya.
Karena itu renungan hari ini bukan tentang siapa yang paling kuat.
Tetapi tentang siapa yang masih mau taat saat hatinya ingin memberontak.
Sebab pengikut Kristus dipanggil bukan untuk menjadi hakim atas semua orang,
tetapi menjadi terang, garam, dan penjala manusia.
Biarlah Tuhan yang menjadi hakim.
Biarlah Tuhan yang membela.
Biarlah Tuhan yang menentukan akhir cerita.
Dan bagian kita?
Tetap mengasihi.
Tetap berjalan bersama Tuhan.
Tetap menyembah meski terluka.
Tetap setia meski dunia tidak mengerti.
Karena pada akhirnya…
Orang yang berjalan bersama Tuhan tidak selalu menang dengan suara paling keras,
tetapi sering kali menang lewat hati yang tetap tunduk kepada-Nya.
Selamat Hari Minggu Tuhan memberkati
Editor Ladies in Christ – Bali 10 Mei 2026 08.29 WIB