Merry Christmas to colleagues, friends, and family. đâ¨
Di tengah badai, ketika banyak orang terjaga dalam kepanikan, aku justru tertidur nyenyakâsetenang bayi tanpa rasa takut. Bukan karena badai itu kecil, melainkan karena aku tahu siapa yang memegang kendali. Banyak yang bertanya, âMengapa kamu bisa setenang dan sekuat itu di tengah badai?â
In the midst of the storm, while many stayed awake in panic, I slept peacefullyâlike a baby without fear. Not because the storm was small, but because I knew who was in control. Many asked, âHow can you remain so calm and strong in the storm?â

Jawabannya sederhana, namun lahir dari perjalanan panjang bersama Tuhan. Aku telah terlalu sering mengalami pertolongan-Nyaâbaik yang kecil maupun yang besarâoleh karena hal tersebut masih kah aku meragukan kasih-Nya. Dari saat Tuhan menyelamatkan nyawa anakku ketika dokter berkata aku membawanya terlambat, hingga ketika berbagai niat jahat dan serangan yang tak terlihat diarahkan kepada kami, namun tidak satu pun menyentuh hidup kami.
The answer is simple, yet born from a long walk with God. I have witnessed His help too many timesâboth small and greatâto still doubt His love. From the moment God saved my childâs life when doctors said I came too late, to unseen attacks and malicious intentions aimed at usânone ever touched our lives.
Aku juga belajar mengenal kasih Tuhan melalui hal-hal yang tampak sepele. Suatu malam, anakku menangis karena menginginkan roti kesukaannyaâhanya satu roti. Tak sampai satu jam kemudian, sebuah keluarga datang membawa lebih dari sepuluh roti dari BreadTalk, lengkap dengan makanan lain yang disukai anakku. Mereka berkata ingin menitipkan anak mereka karena hendak mengikuti doa malam di gereja. Apa pun alasan kedatangan mereka, Tuhan telah lebih dulu menjawab keinginan sederhana anakkuâbahkan melampauinya.
I also learned Godâs love through what seemed trivial. One night, my child cried wanting his favorite breadâjust one loaf. Within an hour, a family arrived with more than ten loaves from BreadTalk and other foods my child loved. They said they wanted to entrust their child because they were going to a night prayer at church. Whatever their reason, God had already answered my childâs simple requestâbeyond measure.
Dari perkara nyawa hingga urusan satu roti, aku belajar satu hal: Tuhan tidak pernah lalai. Jika hal sekecil itu saja Ia perhatikan, bagaimana mungkin aku masih meragukan kasih-Nya atas hidupku dan anak-anakku? Itulah sebabnya aku bisa tetap tenang di tengah badai. Karena aku mengerti, selama Tuhan masih memberi koma, jangan pernah mencoba memberi titik pada hidup seseorang.

From matters of life and death to something as small as a loaf of bread, I learned one truth: God never neglects. If He cares about the smallest details, how could I doubt His love over my life and my children? That is why I remain calm in the stormâbecause as long as God places a comma, no one has the right to put a period on someoneâs life.

Dari semua kisah kehidupan kami, satu hal menjadi semakin jelas: jika Tuhan begitu serius memegang nyawaku dan nyawa anak-anakkuâbahkan ketika keberadaan kami hendak dihapuskan karena sesuatu halâbagaimana mungkin Tuhan sedang bercanda? Tentu tidak. Di balik setiap peristiwa, ada rencana Tuhan yang sering kali tidak kita mengerti. Sebab rancangan Tuhan bukanlah rancangan manusia.
From all our life stories, one truth became undeniable: if God is this serious about holding my life and my childrenâs livesâeven when our existence was threatened because of wealthâhow could God be joking? He is not. Behind every event lies a divine plan beyond human understanding, for Godâs plans are not human plans.
Karena itu, percayalah. Jangan sampai kita begitu butaâtelah berkali-kali melihat kasih Tuhan nyata dalam hidup kita, namun masih meragukan kasih-Nya kepada umat pilihan-Nya. Jika Tuhan memilihmu, itu bukan hal sepele. Itu adalah sebuah kehormatan. Bukan kita yang memilih Dia, melainkan Dia yang lebih dahulu memilih kitaâmenjadikan kita pokok anggur-Nya, agar hidup kita berbuah.
Therefore, believe. Do not be blindâhaving seen Godâs love repeatedly in your life, yet still doubting His love for His chosen people. If God chooses you, it is no small matter; it is an honor. We did not choose Him; He chose us firstâto become His vine, so our lives may bear fruit.
Jadikan kisah ini sebagai bahan perenungan Natal. Tuhan ada di dalam perahu kehidupanmuâbukan sekadar untuk menumpang tidur, tetapi untuk menyertai, menenangkan, dan menyelamatkan. Pertanyaannya kini sederhana, namun jujur: masihkah engkau percaya kepada kasih-Nya?
Let this be your Christmas reflection. God is in the boat of your lifeânot merely to sleep, but to be present, to calm the storm, and to save. The question is simple and honest: do you still believe in His love?
Jika renungan ini menguatkan hatimu, simpan dan bagikan kepada mereka yang sedang berada di tengah badai.
Untuk refleksi penuh dan kesaksian lanjutan, akses edisi Premium melalui Silk & Lounge.
EDITOR AF 25.DECEMBER 2025 TIME 22.25 WITA