Ada sebuah cahaya yang tidak bisa dipadamkan.
Cahaya itu bukan datang dari emas, permata, atau harta, melainkan dari iman sederhana seorang ibu.
Mami selalu berkata:
“Jangan pikirkan besok terlalu jauh, lakukan saja yang terbaik hari ini.
Sukses kita rayakan, gagal kita tata ulang.”
Bagi dunia, mungkin itu terdengar biasa.
Tapi bagi aku, itulah prinsip hidup yang nyata.
There is a light that cannot be dimmed.
It does not come from gold, jewels, or wealth, but from the simple faith of a mother.
“Don’t worry too much about tomorrow, just do your best today.
We celebrate success, and we reset when we fail.”
To the world, it may sound simple.
But to me, it is a principle of life.
Mamaku bukanlah ibu yang sempurna.
Tapi dia adalah ibu yang baik. Ia tidak pernah egois; selalu mengalahkan kepentingannya demi kepentinganku.
Tangannya menopangku bahkan saat dirinya sendiri sedang jatuh.
Walaupun mami bukan seorang Kristen yang taat secara ritual, dia tahu satu hal yang pasti:
ada satu terang yang tidak pernah padam, yaitu Tuhan Yesus.
Dan terang itu yang dia wariskan padaku sejak kecil.
My mom is not a perfect mother.
But she is a good one. She has never been selfish; always putting my needs above her own.
Her hands held me even when she herself was falling.
Though she may not be the most devout Christian in rituals, she knows one certain truth:
there is one light that never fades — Jesus Christ.
And that is the light she passed on to me since I was a child.
Firman Tuhan mengingatkan:
“Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik.” (Kejadian 1:31)
Dan aku pun percaya janji ini:
“Sebab Engkaulah yang membentuk buah pinggangku, Engkaulah yang menenun aku di dalam kandungan ibuku.
Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib; ajaib apa yang Kaubuat, dan jiwaku benar-benar menyadarinya.” (Mazmur 139:13–14)
Yesus juga berkata:
“Akulah jalan, kebenaran, dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” (Yohanes 14:6)
The Word of God reminds us:
“God saw all that He had made, and it was very good.” (Genesis 1:31)
And I also believe this promise:
“For you created my inmost being; you knit me together in my mother’s womb.
I praise you because I am fearfully and wonderfully made; your works are wonderful, I know that full well.” (Psalm 139:13–14)
Jesus also said:
“I am the way and the truth and the life. No one comes to the Father except through me.” (John 14:6)
Aku tidak menyesal punya ibu seperti dia.
Karena lewat dia aku mengenal terang yang benar.
Maka walaupun hidupku gelap, aku tidak benar-benar gelap.
Walaupun hidupku runtuh, aku tidak tertimpa puing-puing.
Karena semua ini… adalah karena cinta.
Bukan karena kuatku, bukan karena gagahku,
tetapi karena kasih yang menopangku.
💌 Love Letter from a Beloved Son

I do not regret having her as my mother.
For through her, I came to know the true Light.
So even when my life feels dark, I am not truly in darkness.
Even when my world collapses, I am not crushed beneath the ruins.
For all of this… is because of love.
Not by my strength, not by my might,
but by the love that carries me.
✒️ Editor: Sinyo Fortunata
Fortunata Gallery | Silk & Lounge