ERUPSI GUNUNG BABY KRAKATAU
Kelihatannya seperti asap biasa. Padahal, bagi pesawat, abu vulkanik bisa menjadi ancaman serius.
Ketika gunung berapi meletus, material yang terlempar ke atmosfer bukan hanya asap. Letusan juga membawa abu vulkanik yang terdiri dari pecahan sangat halus batuan, mineral, dan material vulkanik mirip kaca.
Ukurannya memang sangat kecil, tetapi justru itulah yang membuatnya berbahaya.
BUKAN SEKADAR DEBU

Abu vulkanik memiliki sifat keras dan abrasif. Bayangkan butiran sangat halus seperti amplas beterbangan di udara dalam jumlah sangat besar.
Ketika pesawat memasuki awan abu vulkanik, partikel tersebut dapat menghantam badan pesawat, mengikis kaca kokpit, mengganggu sensor, serta masuk bersama udara yang dihisap oleh mesin.
Pada pesawat bermesin jet, udara masuk melalui bagian depan mesin dan melewati kompresor sebelum menuju ruang pembakaran.
Artinya, jika udara di sekitar pesawat dipenuhi abu vulkanik, abu itu ikut tersedot masuk ke dalam mesin.
APA YANG TERJADI DI DALAM MESIN?
Di sinilah bahayanya menjadi jauh lebih serius.

Mesin jet bekerja pada temperatur yang sangat tinggi. Sebagian material dalam abu vulkanik dapat melunak atau meleleh ketika melewati bagian mesin yang sangat panas.
Material tersebut kemudian dapat menempel dan mengeras kembali pada komponen di bagian turbin.
Jika endapan semakin banyak, aliran udara dan sistem pendinginan mesin dapat terganggu. Dalam kondisi berat, mesin dapat kehilangan tenaga, mengalami gangguan pembakaran, bahkan flameout — kondisi ketika pembakaran di dalam mesin berhenti.
Jadi masalahnya bukan hanya abu yang “mengotori” mesin.
Abu tersebut dapat mengikis, meleleh, menempel, dan mengganggu sistem yang membuat mesin tetap bekerja.
KACA KOKPIT JUGA BISA TERDAMPAK
Pesawat yang terbang dengan kecepatan tinggi membuat benturan dengan partikel abu menjadi semakin agresif.
Partikel abrasif dapat mengikis permukaan kaca kokpit hingga menjadi buram. Abu juga dapat memengaruhi berbagai sensor dan bagian luar pesawat.
Karena itu, awan abu vulkanik bukan sesuatu yang boleh dianggap seperti awan hujan biasa.
MENGAPA PENERBANGAN BISA DIALIHKAN?

Ketika terjadi erupsi besar, abu vulkanik dapat terbawa angin hingga ratusan bahkan ribuan kilometer dari gunung asalnya.
Itulah sebabnya bandara yang lokasinya tidak persis berada di dekat gunung berapi pun dapat terdampak.
Jika jalur penerbangan diperkirakan bersinggungan dengan konsentrasi abu yang berbahaya, penerbangan dapat dialihkan, ditunda, atau dibatalkan untuk menghindari risiko terhadap pesawat dan penumpang.
Keputusan tersebut mungkin terasa merepotkan, tetapi dalam penerbangan, menghindari awan abu jauh lebih aman daripada mencoba menembusnya.
TAHUKAH KAMU?
Pada malam 24 Juni 1982, British Airways Flight 9 terbang memasuki awan abu dari erupsi Gunung Galunggung di Indonesia.
Pesawat Boeing 747 tersebut mengalami kejadian luar biasa: keempat mesinnya kehilangan tenaga.
Setelah pesawat keluar dari konsentrasi abu dan turun ke ketinggian yang lebih rendah, mesin akhirnya dapat dinyalakan kembali dan pesawat berhasil mendarat dengan selamat di Jakarta.
Peristiwa ini kemudian menjadi salah satu contoh paling terkenal mengenai betapa berbahayanya abu vulkanik bagi penerbangan.
—
SILOU NOTE
Abu vulkanik mungkin terlihat seperti debu di langit.
Namun bagi sebuah pesawat yang melaju ratusan kilometer per jam,
butiran kecil batuan dan kaca dapat berubah menjadi ancaman besar.
Sometimes, the smallest particles can create the biggest danger.
EDITORIAL SILKY LOUNGE TEAMS 6 SEPTEMBER 2026 17.16 WIB