Gunung-gunung ini kok seperti janjian. Ada apa? Sang Pemilik bumi hendak datang?
Belakangan ini kami melihat berita tentang gunung api Indonesia dan mulai garuk-garuk kepala.
Satu bersuara.
Yang lain menyusul.
Ada yang erupsi, ada yang mengeluarkan asap, ada pula yang aktivitasnya terus dipantau.
Kok seperti janjian?
Lalu muncul sebuah pertanyaan yang mungkin terdengar sedikit nakal:

“Yang punya bumi mau datang, ya?”
Atau jangan-jangan gunung-gunung ini sedang mengambil peran seperti Yohanes Pembaptis—berseru untuk mempersiapkan jalan?
Tentu saja kami tidak tahu.
Dan artikel ini bukan ramalan.
Tetapi justru karena kita tidak tahu, mungkin sudah waktunya kita kembali membuka Alkitab.
🔵 TERNYATA INDONESIA PUNYA 127 GUNUNG API AKTIF
Menurut Badan Geologi, Kementerian ESDM, Indonesia memiliki 127 gunung api aktif.
Angka tersebut bukan berarti 127 gunung sedang meletus bersamaan. “Aktif” merupakan klasifikasi vulkanologi, dan kondisi masing-masing gunung berbeda-beda.
Indonesia memang hidup berdampingan dengan gunung api.
Kita berada di kawasan Ring of Fire — Cincin Api, salah satu kawasan dengan aktivitas tektonik dan vulkanik paling tinggi di dunia.
Sumber resmi:
Badan Geologi — Kementerian ESDM
https://geologi.esdm.go.id/
🔴 LALU ANAK KRAKATAU BERSUARA
Awal September 2026, perhatian kembali tertuju ke Anak Krakatau.
Badan Geologi melaporkan bahwa pada 4 September 2026 pukul 23.07 WIB, Anak Krakatau memasuki episode erupsi menerus yang berlangsung sekitar 25 jam, hingga 6 September pukul 00.04 WIB.
Setelah episode tersebut, aktivitas erupsi Strombolian masih tercatat.
Per 7 September 2026, Anak Krakatau berada pada Level III — Siaga.

Sumber:
Badan Geologi — Perkembangan Erupsi Gunung Api Anak Krakatau, 7 September 2026
https://geologi.esdm.go.id/
Dan kalau mendengar nama Krakatau, sulit rasanya tidak mengingat tahun 1883.
Salah satu letusan gunung api paling dahsyat dalam sejarah modern pernah terjadi di tempat ini.
Apakah peristiwa seperti Krakatau 1883 akan terulang?
Kami tidak tahu.
Ilmu vulkanologi pun tidak memberikan alasan bagi kita untuk mengatakan bahwa aktivitas sekarang berarti letusan 1883 akan terulang.
Tetapi sejarah cukup untuk mengingatkan kita:
Jangan pernah merasa terlalu besar di hadapan alam.
🟡 BELUM SELESAI. ADA MERAPI, SEMERU, DAN GUNUNG-GUNUNG LAIN

Di Jawa ada Merapi di kawasan Yogyakarta–Jawa Tengah.
Di Jawa Timur ada Semeru, yang wilayahnya mencakup Kabupaten Lumajang dan Malang.
Di wilayah Indonesia lainnya terdapat puluhan gunung api lain yang terus dipantau.
Jadi kami kembali melihat peta Indonesia.
Kanan.
Kiri.
Atas.
Bawah.
Gunung di mana-mana.
Lalu kami kembali bertanya:
“Ini gunung-gunung kok seperti janjian, ya?”
Dan dari situlah pikiran kami malah pergi ke Alkitab.
🔵 APA GUNUNG-GUNUNG INI LAGI JADI “YOHANES”?
Tenang.
Kami tidak mengatakan gunung adalah Yohanes Pembaptis. 😄
Tetapi Yohanes pernah datang dengan sebuah seruan:
“Persiapkanlah jalan untuk Tuhan, luruskanlah jalan bagi-Nya.”
— Matius 3:3
Maka pertanyaannya menarik:
Kalau alam sedang membuat manusia berhenti, menoleh, dan sadar bahwa kita tidak menguasai bumi ini… apakah kita sedang diingatkan untuk kembali mempersiapkan jalan di dalam hati kita?
Kami tidak tahu.
Tetapi Yesaya menuliskan sesuatu yang membuat kami semakin berpikir:
“Dengan guruh, gempa dan suara hebat, dengan puting beliung dan badai serta nyala api yang memakan habis.”
— Yesaya 29:6
Ayat ini memiliki konteks nubuatnya sendiri.
Jadi jangan buru-buru menunjuk sebuah erupsi kemudian berkata:
“Nah! Ini pasti penggenapannya!”
Tidak.
Kita tidak diberi hak untuk membuat kesimpulan seperti itu.
Tetapi kita diberi akal untuk berpikir dan hati untuk berjaga-jaga.
🔴 KARENA KITA TIDAK PERNAH TAHU KAPAN DIA DATANG
Alkitab tidak menyuruh kita sibuk mencari tanggal.
Justru firman berkata:
“Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana.”

— Mazmur 90:12
Menghitung hari bukan menghitung tanggal kiamat.
Menghitung hari berarti sadar:
Waktu kita tidak tidak terbatas.
Hari ini kita masih bekerja.
Besok kita membuat rencana.
Tahun depan kita sudah mempunyai target baru.
Tetapi tidak seorang pun mempunyai kalender yang bertuliskan:
“Hari ini Tuhan datang.”
Karena itulah Yesus mengatakan:
BERJAGA-JAGALAH.
🟡 INGAT LIMA GADIS BODOH DAN LIMA GADIS BIJAKSANA
Dalam Matius 25:1–13, sepuluh gadis menunggu kedatangan mempelai.
Semuanya mempunyai pelita.
Semuanya menunggu orang yang sama.
Tetapi hanya lima yang membawa persediaan minyak.
Mempelai ternyata tidak datang sesuai perkiraan mereka.
Malam semakin panjang.
Mereka mengantuk.
Mereka tertidur.
Kemudian tiba-tiba terdengar seruan:
“Mempelai datang!”
Lima gadis bijaksana bangun.
Pelita mereka masih dapat menyala karena mereka mempunyai minyak.
Lima lainnya mulai panik.
Minyak mereka habis.
Dan di situlah perumpamaan tersebut menjadi sangat relevan.
Kita boleh sibuk dengan dunia.
Kita boleh mempunyai mimpi.
Kita boleh membangun usaha.
Kita boleh mengejar pendidikan dan masa depan.
Tetapi:
JANGAN SAMPAI PELITAMU PADAM KARENA MINYAKMU HABIS.
🔵 JADI… APAKAH SUDAH WAKTUNYA ENGKAU DATANG, TUHAN?
Entahlah.
Mungkin aktivitas gunung hari-hari ini memang hanyalah bagian dari dinamika geologi sebuah negeri yang berada di Cincin Api.
Mungkin beberapa gunung yang aktif dalam waktu berdekatan hanyalah kebetulan waktu.
Atau mungkin semua ini cukup menjadi alarm kecil bagi hati manusia:
“Hei, kamu masih ingat siapa Pemilik bumi ini?”
Kami tidak tahu apakah ini seperti “membuka jalan”.
Kami juga tidak tahu kapan Tuhan datang.
Dan mungkin memang bukan itu yang perlu kita ketahui.
Karena ketika manusia sibuk bertanya:
“Tuhan, kapan Engkau datang?”
Yesus justru meninggalkan pertanyaan untuk kita:
“Jika Anak Manusia itu datang, adakah Ia mendapati iman di bumi?”
— Lukas 18:8
Nah.
Sekarang pertanyaannya berbalik kepada kita.
Kalau Dia datang ketika kita sedang membaca tulisan ini…
Apakah pelita kita masih menyala?
Apakah minyak kita masih ada?
Apakah iman itu masih ditemukan?
Atau kita justru termasuk orang yang baru berlari mencari minyak ketika suara:
“Mempelai datang!”
sudah terdengar?
Kita tidak tahu kapan hari itu tiba.
Karena itu:
Hendaklah kita bijaksana dalam menghitung hari-hari kita.
Bukan untuk takut.
Bukan untuk meramal.
Tetapi supaya ketika Sang Pemilik bumi benar-benar datang,
pelita kita masih menyala.
PRAY FOR INDONESIA 🇮🇩
Untuk masyarakat yang hidup di sekitar gunung api.
Untuk para petugas yang berjaga siang dan malam.
Untuk mereka yang terdampak erupsi dan bencana.
Dan untuk kita semua.
Kiranya Tuhan menjaga Indonesia.
Dan di tengah bumi yang berguncang, gunung yang bersuara, serta dunia yang terus berubah—
Tuhan, kalau memang suatu hari Engkau datang, kiranya Engkau masih menemukan iman di bumi ini.
Keep your lamp burning.
Keep the oil in your lamp.
Be ready.
PRAY FOR INDONESIA 🇮🇩
Editor: Silky Ladies in Christ yang sedang Bingung
7 September 2026 | 19.58 WIB