Ketika Kemurahan Tuhan Menjadi Alasan Manusia Bersungut-sungut
NARWASTU — Digital Vault Magazine
Edisi: November 2026
Kategori: Renungan Rohani | Hikmat dan Kehidupan
Dasar Firman: Matius 20:1–16
Editor: (A&J – Austin Josephine) Editorial
1. Ketika Orang Lain Tidak Senang Melihat Kita Menerima Berkat
Atau iri hatikah engkau, karena aku murah hati?”
— Matius 20:15

Pernahkah Anda bertanya, mengapa ada orang yang terus-menerus mempermasalahkan apa yang kita terima, seolah-olah kita telah mengambil sesuatu yang seharusnya menjadi milik mereka?
Mengapa mereka merasa terganggu ketika orang lain diberikan kesempatan, kemampuan, hikmat, atau kepercayaan?
Padahal mereka tidak kehilangan apa pun.
Persoalan seperti ini mengingatkan kita pada perumpamaan Tuhan Yesus tentang para pekerja di kebun anggur dalam Matius 20:1–16.
Pagi ini saya dibangunkan oleh sebuah kata pekerja di kebun Anggur
Seorang pemilik kebun anggur mempekerjakan beberapa kelompok pekerja pada waktu yang berbeda. Ada yang mulai bekerja sejak pagi, ada yang mulai siang, bahkan ada yang baru bekerja menjelang sore.
Namun, ketika waktunya menerima upah, pemilik kebun memberikan satu dinar kepada setiap pekerja.
Para pekerja yang datang sejak pagi mulai bersungut-sungut.
Mengapa?
Bukan karena pemilik kebun mengingkari janjinya, melainkan karena pekerja yang datang terakhir menerima upah yang sama.
Mereka menerima apa yang telah disepakati, tetapi tidak puas melihat orang lain menerima kemurahan hati.
2. Hak Mereka Tidak Diambil, tetapi Hati Mereka Tidak Puas
Pemilik kebun tidak mengambil upah pekerja pertama untuk diberikan kepada pekerja terakhir.
Tidak ada hak yang dirampas. Tidak ada perjanjian yang dilanggar.

Yang berubah hanyalah cara mereka memandang bagian sendiri setelah melihat bagian orang lain.
Sebelum mengetahui upah pekerja terakhir, satu dinar merupakan upah yang telah mereka setujui.
Namun, setelah membandingkan diri, mereka merasa upah itu tidak lagi cukup.
Di sinilah kita belajar bahwa iri hati dapat membuat manusia kehilangan rasa syukur.
Bukan berkatnya yang berkurang, melainkan rasa syukurnya yang menghilang.
3. Siapakah yang Berhak Menentukan?
Matius 20:15 (TB)
“Tidakkah aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku? Atau iri hatikah engkau, karena aku murah hati?”
Inilah jawaban pemilik kebun kepada pekerja yang bersungut-sungut.
Perumpamaan ini menggambarkan kemurahan dan kedaulatan Allah dalam memberikan anugerah-Nya.
Manusia sering merasa berhak menentukan siapa yang pantas menerima sesuatu.
Mengapa dia yang dipilih?
Mengapa bukan saya?
Mengapa dia mendapatkan kesempatan itu?
Padahal, manusia tidak selalu mengetahui rencana Tuhan bagi kehidupan orang lain.
Tuhan tidak membutuhkan persetujuan manusia untuk bermurah hati.

Namun, kemurahan Tuhan juga tidak membenarkan ketidakadilan atau menghapus tanggung jawab manusia.
4. Mengapa Dia, Bukan Saya?
Tidak semua orang senang melihat orang lain berhasil.
Ada yang merasa tersaingi ketika melihat seseorang menerima kesempatan, kepercayaan, atau kemampuan yang berbeda.
Bahkan ada yang menganggap keberhasilan orang lain sebagai ancaman bagi dirinya.
Padahal, berkat yang diterima seseorang tidak otomatis menjadi kerugian bagi orang lain.
Demikian pula, kemampuan seseorang tidak dapat dinilai hanya berdasarkan penampilan, usia, status, atau pendapat manusia.
Ada orang yang kemampuannya belum terlihat karena belum memperoleh kesempatan.
Ada pula orang yang telah lama bekerja tetapi masih perlu belajar.
Jangan menganggap seseorang tidak layak hanya karena kita tidak mengetahui seluruh kemampuannya.
5. Tuhan Mengenal Ciptaan-Nya
Mazmur 139:1
“TUHAN, Engkau menyelidiki dan mengenal aku.”
Manusia dapat melihat penampilan, pengalaman, dan hasil pekerjaan seseorang.
Namun, Tuhan mengenal manusia jauh lebih dalam.
Dia mengetahui kekuatan, kelemahan, dan segala sesuatu yang tidak selalu terlihat oleh orang lain.
Karena itu, jangan terlalu cepat menghakimi kemampuan seseorang.
Sebaliknya, jika kita dipercaya memiliki kemampuan atau hikmat, gunakanlah dengan rendah hati.
Hikmat bukan alasan untuk merasa lebih tinggi daripada orang lain.
Hikmat adalah tanggung jawab untuk menggunakan kemampuan dengan benar.
6. Permulaan Hikmat Adalah Takut Akan Tuhan
Amsal 9:10
“Permulaan hikmat adalah takut akan TUHAN.”
Takut akan Tuhan bukan berarti takut kepada manusia yang merasa lebih tinggi atau lebih berkuasa.
Manusia boleh menjadi guru, pemimpin, penasihat, atau pembimbing.
Namun, tidak seorang pun berhak menggantikan kedudukan Tuhan dalam kehidupan orang lain.
Tuhan adalah sumber hikmat yang sejati.
Permulaan segala hikmat adalah takut akan Tuhan, bukan takut akan manusia.
Tetapi takut akan Tuhan juga mengajarkan kerendahan hati, termasuk kesediaan menerima nasihat dan koreksi yang benar.
7. Jangan Sibuk Menghitung Bagian Orang Lain
Kesalahan para pekerja pertama bukan terletak pada pekerjaan mereka.
Mereka telah bekerja dan menerima upah yang dijanjikan.
Kesalahan mereka muncul ketika mereka mulai membandingkan upah sendiri dengan upah orang lain.
Akibatnya, mereka tidak lagi mensyukuri apa yang sudah diterima.
Hal seperti ini masih terjadi dalam kehidupan sehari-hari.
Ada orang yang begitu sibuk memperhatikan keberhasilan orang lain hingga lupa mengembangkan dirinya sendiri.
Ada yang sibuk mempertanyakan kesempatan orang lain, tetapi mengabaikan kesempatan yang sudah ada di tangannya.
Jangan terlalu sibuk menghitung berkat orang lain hingga lupa mensyukuri berkat sendiri.
8. Kebun Itu Bukan Milik Para Pekerja
Ada satu hal yang tidak boleh dilupakan dari perumpamaan ini.
Kebun anggur itu milik sang tuan, bukan milik para pekerja.
Para pekerja dipanggil untuk bekerja, bukan untuk mengambil alih keputusan pemilik kebun.
Mereka berhak memperoleh apa yang telah dijanjikan, tetapi tidak berhak melarang sang tuan bermurah hati kepada pekerja lain.
Demikian pula dalam kehidupan rohani.
Manusia bukan pemilik anugerah Tuhan.
Kita tidak berhak menentukan bahwa seseorang tidak boleh menerima kemurahan Tuhan hanya karena kita merasa dirinya tidak pantas.
Orang yang datang terlebih dahulu tidak boleh menyombongkan urutannya.
Orang yang datang terakhir juga tidak boleh menyombongkan kesempatannya.
Sebab keduanya tetap membutuhkan kemurahan Tuhan.
RENUNGAN PENUTUP
Mereka seperti pekerja di kebun anggur.
Bukan karena bagian mereka diambil, melainkan karena mereka tidak rela melihat kemurahan diberikan kepada orang lain.
Mereka bersungut-sungut bukan karena tidak menerima apa yang dijanjikan, tetapi karena membandingkan bagian sendiri dengan bagian sesamanya.
Ingatlah:
Tuhan tidak perlu mengambil bagian seseorang untuk memberkati orang lain.
Kemurahan Tuhan kepada orang lain bukanlah kerugian bagi kita.
Dan tidak seorang pun berhak mengambil alih kedudukan Tuhan untuk menentukan kepada siapa Dia boleh bermurah hati.
“Atau iri hatikah engkau, karena aku murah hati?”
— Matius 20:15
NARWASTU
Edisi November 2026 | Renungan Rohani