Hidup itu seperti menyetir mobil di jalan tol.
Kita sudah masuk jalur. Kita punya tujuan. Bensin terbatas. Waktu terus jalan. Dan kita tetap harus memperhatikan kiri, kanan, depan, serta belakang.
Kadang dari luar ada orang yang teriak, maki-maki, merendahkan, atau memfitnah.
Masalahnya, kita lagi di jalan tol.
Mau berhenti juga nggak bisa sembarangan.
Bahu jalan bukan tempat parkir. Rest area masih jauh. Kalau mendadak melambat atau berhenti seenaknya, malah bisa membahayakan diri sendiri dan orang lain.
Jadi ya sudah—kita lanjut nyetir.
Bukan selalu karena merasa terlalu tinggi untuk meladeni.
Kadang memang sesederhana:
“Mau berhenti di mana?”
Lucunya, ketika akhirnya ketemu rest area dan ada tempat aman untuk berhenti, orang yang tadi maki-maki itu sudah jauh tertinggal.
Sudah nggak kelihatan.
Mau dibalas juga buat apa?
Harus putar balik?
Bayar tol lagi?
Buang bensin lagi?
Cuma untuk mencari orang yang mungkin sudah pindah ke jalan lain?
Di situ kita akhirnya sadar bahwa banyak keributan dalam hidup memang punya masa kedaluwarsa.
Kalau kita tidak langsung bereaksi, sering kali beberapa kilometer kemudian masalahnya sudah tidak relevan lagi.
Bahkan kadang kita baru sadar ada yang marah setelah semuanya lewat.
Apalagi kalau kaca tertutup, musik sedang menyala, dan kita fokus ke jalan.

Ada orang mengacungkan tangan sambil teriak:
“Goblok lu!”
Dari dalam mobil kita nggak dengar.
Kita malah pikir dia menyapa.
Kita balas:
“Haiii… how are you?”
Lalu jalan lagi.
Dia marahnya luar biasa.
Kita malah nyanyi.
ENERGI ITU BENSIN
Energi dalam hidup seperti bensin.
Tidak tak terbatas.
Kalau setiap gangguan membuat kita harus keluar jalur, cari parkiran, berhenti, turun, berdebat, lalu masuk tol lagi, perjalanan kita sendiri yang jadi mahal.
Jadi bukan semua hal harus diselesaikan saat itu juga.
Kadang jarak menyelesaikan sesuatu dengan sendirinya.
Kadang waktu membuat keributan kehilangan arti.
Kadang ketika kita akhirnya punya kesempatan untuk berhenti dan memikirkannya, kita malah sadar:
“Oh… ternyata nggak penting.”
Yang penting bukan membalas setiap suara.
Yang penting adalah tetap tahu kondisi sekitar.
Lihat kiri.
Lihat kanan.
Lihat depan.
Sesekali cek spion.
Tapi tetap pegang setir.
Karena mobilnya milik kita.
Tolnya kita yang bayar.
Bensinnya kita yang beli.
Tujuannya kita yang tentukan.
Dan kalau rest area masih jauh, ya sudah—
lanjut nyetir dulu.
Bisa jadi ketika akhirnya kita sampai di tempat aman untuk berhenti, orang yang tadi ribut sudah jauh tertinggal di belakang.
HIDUP YANG DIGERAKKAN OLEH TUJUAN
Lihat jalan di depan, tetap pegang kemudi, dan jangan kehilangan arah hanya karena suara dari pinggir jalan.
Purpose-Driven Life — Not every noise deserves a stop.
Editor’s Note — Purpose-Driven Life
26 September 2026 | 09:42 WIB