Seni Jepang yang Mengubah Pecahan Menjadi Keindahan
Kintsugi (金継ぎ) adalah seni tradisional Jepang untuk memperbaiki keramik yang pecah dengan menggunakan lacquer Jepang yang disebut urushi, kemudian menonjolkan garis sambungannya menggunakan serbuk emas atau logam mulia lainnya.
Nama Kintsugi berasal dari dua kata Jepang:
Kin (金) — emas
Tsugi (継ぎ) — menyambung atau menyatukan kembali
Secara sederhana, Kintsugi dapat dimaknai sebagai “menyambung dengan emas.”

Bagaimana Kintsugi Bermula?
Kintsugi diperkirakan berkembang di Jepang sekitar akhir abad ke-15, ketika keramik dan perlengkapan minum teh memiliki kedudukan penting dalam kehidupan kaum elite Jepang.
Salah satu cerita paling terkenal mengenai asal-usul Kintsugi dikaitkan dengan Ashikaga Yoshimasa, shogun kedelapan dari Keshogunan Ashikaga.
Menurut cerita tradisional, Yoshimasa memiliki sebuah mangkuk teh yang sangat disukainya. Ketika mangkuk tersebut pecah, benda itu dikirim untuk diperbaiki.
Mangkuk tersebut kemudian dikembalikan dalam keadaan telah disatukan menggunakan pengikat atau staples logam.
Secara fungsi mangkuk itu memang telah diperbaiki, tetapi hasilnya dianggap kurang indah.
Cerita populer kemudian menyebut bahwa keadaan tersebut mendorong para pengrajin Jepang mencari cara yang lebih elegan untuk memperbaiki keramik yang pecah.
Mereka menggunakan urushi, lacquer alami yang telah lama digunakan dalam kerajinan Jepang, untuk menyatukan kembali bagian-bagian keramik.
Garis sambungannya kemudian dihiasi dengan serbuk emas.
Dari sinilah Kintsugi dikenal.
Namun kisah mengenai mangkuk Ashikaga Yoshimasa tersebut merupakan tradisi populer mengenai asal-usul Kintsugi, bukan sebuah peristiwa yang seluruh detail sejarahnya dapat dipastikan.
Kerusakan yang Tidak Disembunyikan
Hal yang membuat Kintsugi berbeda dari perbaikan biasa adalah cara kerusakan tersebut diperlakukan.
Biasanya ketika sebuah benda pecah, manusia berusaha memperbaikinya sedemikian rupa sehingga bekas kerusakannya tidak terlihat.
Kintsugi melakukan sebaliknya.
Bekas pecahannya justru ditonjolkan.
Garis retakan yang sebelumnya dianggap sebagai kekurangan berubah menjadi bagian dari desain benda tersebut.
Karena setiap benda pecah dengan pola yang berbeda, tidak ada dua hasil Kintsugi yang benar-benar sama.
Setiap garis emas menunjukkan perjalanan yang pernah dialami benda tersebut.
Mangkuk yang telah diperbaiki tidak berpura-pura bahwa dirinya tidak pernah pecah.
Ia tetap membawa bekas pecahannya—tetapi kini bekas tersebut menjadi bagian dari keindahannya.
KINTSUGI

Kintsugi akhirnya berkembang menjadi salah satu bentuk kerajinan yang sangat dikenal dari Jepang.
Sebuah benda yang pecah tidak selalu harus dibuang.
Ia dapat diperbaiki.
Ia dapat digunakan kembali.
Dan setelah melewati proses tersebut, ia membawa sebuah karakter yang sebelumnya tidak pernah dimilikinya.
The crack remains.
The story remains.
But the broken piece becomes whole again.
EDITOR SILKY LOUNGE EDITORIAL 6 AUGUST 2026 TIME 13.31WIB