Ada satu statement yang cukup populer di kalangan anak muda di media sosial:
“Lu punya duit, lu punya kuasa.”

Saya tidak mengatakan statement itu sepenuhnya salah.
Di dunia ini uang memang punya fungsi dan kekuatan. Dengan uang kita bisa membayar pendidikan, membeli makanan, membangun usaha, menolong orang lain, dan membuka banyak akses.
Tetapi suatu hari hati saya tergelitik untuk membawa kalimat itu dalam doa.
Saya bertanya:
“Tuhan, mereka bilang: lu punya duit, lu punya kuasa. Bagaimana menurut-Mu?”
Saya tidak mendapatkan jawaban berupa uang yang tiba-tiba jatuh dari langit.
Yang muncul dalam perenungan saya justru dua nama:YOSUA & KALEB.

Kemudian saya teringat kesaksian salah satu hamba-Nya:
Pdt. Debby Basjir.
(Ibu Debbie cakep kan ya potonya 😎)

Dan saat itulah saya mulai memahami sesuatu yang sebenarnya sudah berkali-kali terjadi dalam kehidupan saya sendiri.
12 PENGINTAI, SATU TANAH, DUA CARA PANDANG
Ketika Musa mengutus dua belas pengintai ke Tanah Kanaan, semuanya melihat keadaan yang sama.
Tanah yang sama.
Buah yang sama.
Benteng yang sama.
Raksasa yang sama.
Sepuluh pengintai berkata:
«“Kita tidak dapat maju menyerang bangsa itu, karena mereka lebih kuat dari pada kita.”
— Bilangan 13:31»
Mereka tidak berbohong.
Raksasanya memang ada.
Tetapi Yosua dan Kaleb melihat fakta yang sama dan berkata:
«“TUHAN menyertai kita; janganlah takut kepada mereka.”
— Bilangan 14:9»
Di situlah perbedaannya.
**Sepuluh pengintai menghitung apa yang mereka punya.
Yosua dan Kaleb menghitung Siapa yang mereka punya.**
Raksasanya tidak berubah ukuran.
Yang berbeda adalah cara pandangnya.
—
KESAKSIAN YANG SAYA LIHAT DALAM HIDUP SENDIRI
Ketika merenungkan Yosua dan Kaleb, saya melihat kembali perjalanan hidup saya.
Ada satu pola yang berulang kali saya alami:
Pertolongan sering datang ketika saya sudah berada di ujung tanduk.
Sampai hari ini, saya tidak pernah dikeluarkan dari sekolah hanya karena belum mampu membayar SPP.
Saya juga tidak pernah dibiarkan sampai tidak makan.
Bukan berarti perjalanan hidup selalu mudah.
Ada waktunya saya melihat keadaan dan secara manusia berpikir:
“Sekarang bagaimana?”
Tetapi entah bagaimana, pertolongan datang.
Kadang bukan dalam bentuk uang yang langsung muncul di depan mata.
Kadang Tuhan mengirimkannya melalui teman yang tiba-tiba memberikan proyek.
Kadang melalui saudara yang tiba-tiba bertemu lalu memberikan angpau.
Kadang melalui orang yang bahkan sebelumnya tidak saya kenal, tetapi tiba-tiba begitu peduli kepada saya.
Dan bagi saya pribadi, justru bagian itulah yang lebih amazing.
Saya mulai memahami:

Pertolongan Tuhan tidak selalu datang dalam bentuk uang.
Kadang Dia mengirim orang.
Kadang Dia mengirim pekerjaan.
Kadang Dia mengirim kesempatan.
Kadang Dia mengirim ide.
Kadang Dia membuka sebuah hubungan yang sebelumnya bahkan tidak masuk dalam perhitungan kita.
Dan melalui semua itu, kebutuhan akhirnya tercukupi.
—
KESAKSIAN PDT. DEBBY BASJIR
Tuhan masih punya jalan yang belum terlihat.”
Kemudian saya teringat kesaksian Pdt. Debby Basjir dalam khotbahnya, “Hidup adalah Anugerah.”
Dalam kesaksian tersebut, beliau menceritakan perjalanan melukisnya.
Salah satu lukisan yang diunggah ke Instagram kemudian ada yang menawar dan membelinya sekitar Rp10 juta.
Dalam perjalanan berikutnya ada karya yang terjual sekitar Rp70 juta, kemudian ada pula yang terjual sekitar Rp75 juta.
Yang menarik perhatian saya bukan sekadar nominalnya.
Bukan:
“Wow, lukisan bisa menghasilkan puluhan juta.”
Bagi saya justru pertanyaannya:
Siapa yang sebelumnya menyangka sebuah lukisan dapat menjadi salah satu jalan yang terbuka?
Ada tangan yang tetap bekerja.
Ada talenta yang digunakan.
Ada karya yang dibuat.
Ada orang yang digerakkan untuk membeli.
Inilah yang saya pelajari:
Iman bukan berarti berhenti bekerja dan menunggu uang jatuh dari langit.
Kita tetap bekerja.
Kita tetap menggunakan talenta.
Kita tetap bergerak.
Tetapi kita tidak membatasi pertolongan Tuhan hanya kepada jalan yang sedang terlihat oleh mata kita.
AIR DAN SUMBER AIR
Dari situlah saya memahami sebuah prinsip sederhana.
Uang adalah AIR.
Pekerjaan adalah saluran.
Bisnis adalah saluran.
Proyek adalah saluran.
Teman dapat menjadi saluran.
Saudara dapat menjadi saluran.
Bahkan orang yang belum pernah kita kenal dapat menjadi saluran.
Tetapi semuanya tetap saluran.
Jangan sampai kita begitu sibuk mengejar air sampai lupa mencari:
SUMBER AIR.
Sebab ketika satu keran tertutup, bukan berarti sumbernya ikut kering.
—
PINTU TERTUTUP BUKAN BERARTI PERJALANAN SELESAI

Ada pintu yang tertutup.
Dan sering kali manusia berdiri di depan pintu itu sambil berkata:
“Sudah. Habis. Tidak ada jalan.”
Padahal pengalaman hidup mengajarkan saya:
Ketika satu pintu tertutup, Tuhan bisa memberikan kunci untuk membuka pintu yang lain.
Masalahnya, terkadang kita terlalu lama menangisi pintu pertama sampai tidak melihat bahwa masih ada pintu lainnya.
Yosua dan Kaleb tidak menyangkal adanya raksasa.
Mereka hanya menolak menjadikan raksasa sebagai kesimpulan akhir.
Begitu juga iman.
Iman bukan berkata:
“Saya tidak punya masalah.”
Iman berkata:
“Masalah ini nyata, tetapi saya tidak percaya masalah ini adalah batas kemampuan Tuhan.”
—
“LU PUNYA DUIT, LU PUNYA KUASA.”
Saya mengerti mengapa dunia berkata demikian.
Dan saya menghormati setiap orang yang mempunyai pandangan berbeda.
Tulisan ini bukan untuk menyindir keadaan ekonomi siapa pun.
Bukan pula untuk mengatakan uang tidak penting.
Ini murni lahir dari perjalanan hidup dan iman saya sendiri.
Karena yang saya alami justru sering kali terbalik.
Saya tidak selalu melihat uangnya terlebih dahulu.
Kadang yang saya lihat pertama justru jalan buntu.
Kemudian datang teman.
Datang proyek.
Datang saudara.
Datang orang yang tidak saya kenal.
Datang kesempatan.
Dan akhirnya kebutuhan itu tercukupi.
Maka mohon maaf apabila pandangan saya berbeda.
Saya tidak bermaksud membuat siapa pun tersinggung.
Tetapi setelah melihat bagaimana tangan Tuhan memelihara saya dan keluarga sepanjang perjalanan hidup ini, saya memiliki kesimpulan pribadi:
LU PUNYA TUHAN, LU PUNYA SEGALANYA.
Bukan berarti rekening selalu penuh.
Bukan berarti hidup tanpa masalah.
Bukan berarti semua doa langsung dijawab sesuai keinginan kita.
Tetapi berarti:
Ketika saya belum melihat jalannya, saya tidak buru-buru menyimpulkan bahwa jalan itu tidak ada.
—
DAN SEKARANG SAYA MENGERTI JAWABAN DOA SAYA
Saya bertanya:
“Tuhan, mereka bilang lu punya duit, lu punya kuasa.”
Tetapi melalui Yosua dan Kaleb, kesaksian Pdt. Debby Basjir, serta perjalanan hidup saya sendiri, saya belajar:
Jangan ukur seluruh masa depan hanya dari apa yang sedang ada di tanganmu.
Hari ini mungkin kita belum melihat uangnya.
Belum melihat jalannya.
Belum melihat orangnya.
Belum melihat kesempatannya.
Tetapi:
BELUM TERLIHAT BUKAN BERARTI TIDAK ADA JALAN.
Jadi bekerjalah.
Gunakan talenta.
Bangun usaha.
Kelola uang.
Hargai orang-orang yang Tuhan kirimkan.
Tetapi jangan salah mengenali Sumber.
**JANGAN CUMA MENCARI AIR.
CARILAH SUMBER AIR.**
Karena pengalaman hidup saya mengajarkan:
Kadang Tuhan tidak memberikan air dari keran yang sedang kita tunggu.
Dia menunjukkan keran yang lain.
Dan ketika sebuah pintu tertutup,
Tuhan masih mempunyai kunci untuk pintu yang lain.
Dunia boleh berkata:
“Lu punya duit, lu punya kuasa.”
Tetapi dari sisi perjalanan hidup saya, saya memilih berkata:
“LU PUNYA TUHAN, LU PUNYA SEGALANYA.”
«“Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita?”
— Roma 8:31»
**Saya bertanya kepada Tuhan tentang uang.
Tetapi Tuhan mengajar saya tentang Sumber.
EDITOR GROWTH TOGETHER WITH CHRIST 18 AGUSTUS 2026 10.39 WIB