iPhone vs Samsung: Ketika Kompetitor Justru Menjadi Sumber Pendapatan
DARK SIDE OF MANAGEMENT BUSINESS
Team Editor: Silky Lounge
9 Oktober 2026 | Business Insight
Ketika Dua Raksasa Teknologi Saling Menguntungkan
Tahukah kamu?
Di balik persaingan sengit antara Apple dan Samsung, ternyata tersimpan hubungan bisnis yang tidak banyak diperhatikan konsumen.
Di mata publik, keduanya adalah rival besar. Setiap peluncuran smartphone terbaru selalu memancing perbandingan kualitas kamera, teknologi layar, performa, desain, hingga harga.
Penggemar iPhone membela Apple. Penggemar Galaxy membela Samsung.
Namun, siapa sangka?
Ketika Apple menjual iPhone tertentu, Samsung justru ikut memperoleh pendapatan dari komponen di dalamnya.
Bukan sekadar rumor. Hubungan bisnis tersebut telah berlangsung selama bertahun-tahun.
Fakta Menarik: Sekitar Rp1,7 Juta per iPhone X

Pada 2017, analisis Counterpoint Research yang diberitakan The Wall Street Journal memperkirakan bahwa Samsung memperoleh sekitar US$110 dari komponen setiap iPhone X yang diproduksi.
Jika dihitung menggunakan asumsi kurs Rp15.500 per dolar AS, nilainya mencapai sekitar Rp1.705.000 per unit.
Angka tersebut berasal dari estimasi nilai komponen, bukan keuntungan bersih atau royalti tetap yang dibayarkan setiap kali iPhone terjual.
Berikut fakta-fakta menariknya:
- US$110 per unit: estimasi pendapatan komponen Samsung dari setiap iPhone X pada 2017.
- Layar OLED: Samsung Display menjadi salah satu pemasok utama teknologi layar iPhone.
- Komponen tambahan: hubungan pasokan juga mencakup sejumlah komponen elektronik lainnya.
- 130 juta unit: proyeksi penjualan iPhone X hingga musim panas 2019 dalam analisis saat itu, bukan angka penjualan aktual.
- Miliaran dolar: nilai bisnis komponen menunjukkan besarnya peluang ekonomi di balik persaingan dua merek.
Penting dipahami bahwa estimasi US$110 tersebut khusus untuk iPhone X pada periode tersebut. Nilainya tidak dapat dianggap berlaku untuk seluruh model iPhone hingga 2026.
Musuh di Depan, Mitra di Belakang

Inilah salah satu fenomena menarik dalam dunia manajemen bisnis modern.
Apple dan Samsung bersaing memperebutkan konsumen smartphone.
Namun, Samsung juga menjalankan bisnis sebagai pemasok komponen yang dibutuhkan Apple.
Dengan demikian, keduanya bisa bersaing di pasar produk akhir sekaligus bekerja sama dalam rantai pasokan.
Strategi semacam ini dikenal sebagai coopetition, yaitu kombinasi antara competition dan cooperation.
Bersaing tidak selalu berarti harus memutus seluruh hubungan bisnis.
Bahkan, kompetitor dapat menjadi pelanggan penting dalam lini usaha yang berbeda.
The Dark Side: Konsumen Bertengkar, Perusahaan Bertransaksi
Ada ironi menarik dalam fenomena ini.
Di media sosial, penggemar kedua merek sering memperdebatkan smartphone mana yang paling unggul.
Sebagian konsumen begitu fanatik sampai menganggap merek pesaing sebagai musuh.
Padahal, di tingkat korporasi, keputusan bisnis tidak selalu didasarkan pada rivalitas merek.
Perusahaan mempertimbangkan kualitas, kapasitas produksi, biaya, teknologi, dan keuntungan jangka panjang.
Ketika konsumen sibuk mempertahankan gengsi merek, perusahaan justru menghitung peluang pendapatan.
Tentu, kerja sama tersebut tidak menghilangkan persaingan Apple dan Samsung. Keduanya tetap memiliki kepentingan bisnis masing-masing.
Namun, kisah ini menunjukkan bahwa realitas dunia usaha jauh lebih kompleks daripada sekadar siapa menang dan siapa kalah.
Pelajaran Manajemen: Jangan Hanya Ingin Mengalahkan Kompetitor
Bagi seorang entrepreneur, ada pelajaran penting dari fenomena tersebut.
Banyak pelaku usaha terlalu fokus mencari cara untuk mengalahkan pesaing.
Mereka berlomba menurunkan harga, meningkatkan promosi, atau merebut pelanggan.
Padahal, ada pertanyaan lain yang tidak kalah penting:
Bagaimana jika kompetitor justru bisa menjadi pelanggan kita?
Misalnya, sebuah perusahaan fashion tidak harus selalu bersaing menjual pakaian kepada konsumen akhir.
Perusahaan tersebut juga dapat menyediakan bahan baku, aksesori, kemasan, atau layanan produksi bagi merek fashion lainnya.
Begitu pula dalam industri makanan, teknologi, kecantikan, dan perdagangan digital.
Peluang bisnis tidak hanya berada pada produk yang terlihat di etalase.
Terkadang, peluang yang jauh lebih besar justru tersembunyi di balik rantai pasokan.
Jangan Terlalu Sibuk Menjadi Nomor Satu
Menjadi pemimpin pasar tentu merupakan pencapaian besar.
Namun, membangun bisnis yang dibutuhkan banyak perusahaan juga merupakan strategi yang bernilai.
Sebuah perusahaan tidak harus memenangkan seluruh persaingan untuk memperoleh pendapatan dari pertumbuhan industri.
Ketika beberapa merek berkembang, pemasok yang melayani mereka juga berpeluang ikut berkembang.
Meski demikian, strategi ini tetap memiliki risiko, termasuk ketergantungan terhadap pelanggan besar, tekanan harga, dan konflik kepentingan.
Karena itu, kerja sama dengan kompetitor harus dibangun melalui perhitungan bisnis yang matang.
Kesimpulan: Business Is Business
Kisah Apple dan Samsung mengajarkan bahwa dunia bisnis tidak sesederhana permusuhan antarmerek.
Di depan publik, keduanya berlomba memenangkan pasar.
Di belakang layar, keduanya dapat menjalankan transaksi bisnis yang saling menguntungkan.
Kompetitor bukan selalu pihak yang harus dijauhi.
Dalam situasi tertentu, kompetitor justru dapat menjadi salah satu pelanggan paling bernilai.
Jangan hanya belajar bagaimana mengalahkan pesaing. Belajarlah bagaimana menciptakan bisnis yang bahkan dibutuhkan oleh pesaingmu.
Karena pada akhirnya:
MUSUH BESAR DI MARKET, BESTIE DI BELAKANG LAYAR.
Business is business. Competition is competition. Profit is another conversation.
DARK SIDE OF MANAGEMENT BUSINESS
Team Editor — Silky Lounge
9 Oktober 2026
Referensi historis: Analisis Counterpoint Research yang diberitakan The Wall Street Journal pada 2017 mengenai estimasi nilai komponen Samsung dalam iPhone X. Angka rupiah menggunakan asumsi kurs untuk ilustrasi, bukan kurs aktual tahun 2017.