Dalam sejarah dunia, warna ungu bukan sekadar warna yang indah. Sejak zaman kuno, ungu adalah lambang kekuasaan, kemuliaan, kehormatan, dan otoritas tertinggi
Masa Kekaisaran Romawi, warna ungu yang dikenal sebagai Tyrian Purple dibuat dari cairan kelenjar siput laut murex. Dibutuhkan ribuan ekor siput untuk menghasilkan sedikit pewarna, sehingga harganya sangat mahal. Karena itu, hanya kaisar, keluarga kerajaan, dan pejabat tinggi yang berhak mengenakannya. Ungu menjadi simbol seorang penguasa.

Namun, di balik sejarah itu terdapat sebuah ironi yang indah.
Ketika Yesus diadili sebelum penyaliban, para prajurit Romawi mengenakan jubah ungu kepada-Nya. Mereka bermaksud mengejek-Nya sebagai “Raja orang Yahudi”. Mereka memasangkan mahkota duri, memberikan buluh sebagai tongkat kerajaan, lalu menghina dan meludahi-Nya.
Tanpa mereka sadari, mereka justru sedang mengenakan lambang kerajaan kepada Sang Raja sejati. Apa yang dimaksudkan sebagai ejekan, Allah ubah menjadi sebuah kesaksian bahwa Yesus adalah Raja di atas segala raja.
Dalam tradisi pastoral dan liturgi Kristen, warna ungu memiliki makna yang lebih dalam lagi. Ungu digunakan selama masa Adven dan Prapaskah sebagai lambang:
Pertobatan dan pembaruan hidup.
Kerendahan hati di hadapan Allah.
Persiapan menyambut karya Kristus.
Pengharapan akan janji keselamatan.
Di sinilah dua makna warna ungu bertemu.
Bagi dunia, ungu adalah lambang kekuasaan seorang raja.

Bagi gereja, ungu adalah lambang hati yang bertobat dan siap menerima Sang Raja.
Kristus menunjukkan bahwa kerajaan Allah tidak dibangun dengan pedang, melainkan dengan kasih. Ia tidak memakai mahkota emas, tetapi mahkota duri. Ia tidak naik ke takhta dunia, melainkan ke kayu salib, agar melalui kematian dan kebangkitan-Nya manusia memperoleh hidup yang kekal.
Karena itu, setiap kali kita melihat warna ungu, kita diingatkan bahwa kemuliaan sejati lahir melalui kerendahan hati, dan kekuasaan sejati dinyatakan melalui kasih yang rela berkorban.
“Ungu adalah warna kekuasaan bagi dunia, tetapi menjadi warna pertobatan bagi gereja. Di dalam Kristus, keduanya bertemu: Sang Raja yang Mahamulia datang dengan kerendahan hati untuk menyelamatkan manusia.”

Jangan hanya mengagumi kemuliaan Kristus, tetapi hiduplah sebagai warga Kerajaan-Nya. Biarkan hati kita dipenuhi pertobatan, kasih, dan ketaatan kepada Sang Raja di atas segala raja. Sebab kerajaan-Nya bukan dibangun dengan kekuatan manusia, melainkan dengan kasih yang mengubahkan hidup.
Editor: Growth Together with Christ
25 Jan 2026 • 17:29 WIB