Renungan hari ini:
Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu…”
(Yohanes 15:16)»
Ketika Sebuah Quote Menjadi Rhema
Beberapa hari ini ada satu kalimat yang terus terngiang di kepala saya.
«”Kalau dipilih, jadilah yang terbaik.”»

Awalnya saya menganggap itu hanyalah sebuah quote motivasi. Namun entah mengapa, kalimat itu terus berputar di dalam hati saya.
Lalu Roh Kudus mengingatkan saya pada firman Tuhan.
«”Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu…”
(Yohanes 15:16)»
Saat itulah saya seperti ditampar kalo Tuhan yang memilih berarti aku harus jadi yang terbaik harus all out…harus mengeluarkan versi terbaik dari diriku untuk kemuliaan namaNya.

Saya sadar, selama ini saya bisa memberikan yang terbaik untuk banyak hal di dunia ini. Saya bisa bekerja dengan integritas, memberikan kualitas terbaik kepada pelanggan, rela begadang membangun bisnis, mengejar impian, bahkan berjuang untuk orang-orang yang belum tentu memilih saya.
Namun Tuhan seolah bertanya,
«”Kalau kepada manusia yang belum tentu memilihmu saja kamu bisa memberikan yang terbaik, mengapa kepada-Ku, yang sudah lebih dahulu memilihmu, kamu belum benar-benar all out?”»

Pertanyaan itu menusuk hati saya.
Lalu saya menyadari sesuatu.
Tuhan tidak pernah melarang kita membangun bisnis, berkarya, atau memiliki mimpi. Semua itu bisa menjadi alat untuk memuliakan nama-Nya.
Tetapi Tuhan sedang mengingatkan siapa yang harus menjadi pilihan pertama.
Mungkin itulah sebabnya akhir-akhir ini doa yang keluar dari mulut saya hanya sederhana.
«”OK Tuhan.”
“I surrender.”
“Atur saja.”»
Bagi sebagian orang mungkin terdengar seperti kehilangan arah.
Namun bagi saya, itu justru awal dari sebuah penyerahan.
Saya tidak lagi ingin menjadi penentu utama arah hidup saya.
Saya ingin Tuhan yang memegang kemudi.
Dan dari semua perenungan ini, saya merasa Tuhan sedang menaruh satu kalimat di hati saya:
«”Jangan salah pilih lagi.”»

Bukan sekadar memilih pekerjaan.
Bukan sekadar memilih bisnis.

Karena pada akhirnya, bukan saya yang memilih Tuhan.
Tuhanlah yang memilih saya.
Maka doa saya hari ini menjadi sangat sederhana.
«”Tuhan, Engkau sudah lebih dahulu memilihku. Jangan biarkan aku lagi memilih jalan yang membuatku menjauh dari kehendak-Mu. Ajar aku memilih apa yang Engkau pilih, mengasihi apa yang Engkau kasihi, dan hidup sepenuh hati bagi-Mu.”»
Saya percaya, jika ini memang Rhema yang Tuhan sedang tanamkan, maka saya tidak perlu tergesa-gesa mengubah semua rencana hidup saya.
Media ini adalah talenta terbaik yang bisa saya persembahkan kepada Tuhan.
Saya memilih memberikan versi terbaik dari hidup saya, bukan untuk mencari pujian manusia, tetapi untuk memuliakan Nama Yesus Kristus.
Silakan jika ada yang menghina atau meragukan karya ini. Saya akan tetap berkarya.
Namun bagi siapa pun yang rindu melayani melalui tulisan, seni, musik, fotografi, atau media digital, pintu kami terbuka.
Kami percaya Gereja bukan hanya sebuah gedung. Gereja adalah tubuh Kristus.

Melalui media ini, kami ingin menjadi Gereja Tanpa Tembok, menjangkau siapa pun dengan kasih Kristus.
Karena Yesus bukan agama. Yesus adalah Pribadi yang hidup
yang datang untuk menyelamatkan setiap orang yang percaya kepada-Nya.
Yang perlu saya lakukan setiap hari hanyalah bertanya:
«”Tuhan, hari ini bagaimana aku bisa memberikan yang terbaik kepada-Mu?”»
Karena pada akhirnya, orang yang sudah dipilih Tuhan dipanggil bukan hanya untuk menerima keselamatan, tetapi juga untuk hidup sepadan dengan panggilan itu.
Dan hari ini saya mengerti makna quote itu.
«”Kalau dipilih, jadilah yang terbaik.”»
Karena saya telah dipilih oleh Tuhan, maka saya ingin memberikan yang terbaik, bukan sekadar sebagian hidup saya, melainkan seluruh hidup saya.
EDITOR GROWTH WITH CHRIST 29 JUNI 2026 22.03 WIB