Renungan FT hari ini :
“TUHAN adalah gunung batuku, kubu pertahananku dan penyelamatku.”
— Mazmur 18:2
memang belakangan ini Gunung Kawi kembali ramai dibicarakan di media sosial, terutama karena muncul banyak video, podcast, dan konten yang membahas kisah-kisah mistis, ritual, serta pengalaman orang-orang yang pernah datang ke sana. Topik ini memicu perdebatan antara yang mempercayainya, yang melihatnya sebagai bagian dari budaya, dan yang meninjaunya dari sudut pandang agama

Ada banyak orang yang pergi ke gunung dengan berbagai tujuan. Ada yang mencari ketenangan, ada yang mencari kekayaan, ada pula yang berharap hidupnya berubah.
Namun bagi orang percaya, pengharapan terbesar bukanlah pada sebuah tempat, melainkan kepada Tuhan sendiri.
Alkitab tidak pernah berkata, “Larilah ke gunung ini atau gunung itu.” Sebaliknya, Firman Tuhan menyatakan bahwa Tuhan sendirilah Gunung Batu kita.

Nama TUHAN adalah menara yang kuat, ke sanalah orang benar berlari dan menjadi selamat.”
— Amsal 18:10»
Gunung dapat menjadi tempat wisata. Gunung dapat menjadi bagian dari sejarah. Namun keselamatan tidak pernah berasal dari gunung, melainkan dari Sang Pencipta gunung.
Ketika Daud berkata bahwa Tuhan adalah Gunung Batunya, ia sedang menyatakan bahwa Tuhan adalah dasar yang tidak terguncangkan, perlindungan yang tidak pernah gagal, dan tempat perlindungan yang kekal.

Menurut tradisi Gereja Koptik, terdapat sebuah kisah yang terkenal tentang Bukit Mokattam di Mesir. Tradisi tersebut menceritakan bahwa bukit itu pernah bergeser sebagai jawaban atas doa dan sering dikaitkan dengan perkataan Yesus bahwa “iman sebesar biji sesawi dapat memindahkan gunung.” Namun, penting dipahami bahwa kisah Bukit Mokattam bukan merupakan bagian dari catatan Alkitab, melainkan berasal dari tradisi Gereja Koptik yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Artikel ini tidak dimaksudkan untuk menghakimi tradisi atau keyakinan siapa pun. Gunung Kawi memiliki tempatnya dalam sejarah dan budaya,
Namun, sebagai orang Kristen, dasar iman kami tetap mengacu kepada Alkitab. Alkitab dengan jelas mengajarkan bahwa tidak ada yang mustahil bagi Allah, dan keselamatan kita bukan berasal dari gunung mana pun, melainkan dari Tuhan, Sang Gunung Batu, tempat orang benar berlari dan memperoleh keselamatan.
Sedangkan Bukit Mokattam memiliki tempatnya dalam tradisi Gereja Koptik. Keduanya berdiri pada konteksnya masing-masing.
Tidak apa-apa jika dunia memandang kita rendah. Yang terpenting, kita berdiri di atas dasar yang benar, yaitu Kristus. Sebab ketika kita berdiri di atas Sang Gunung Batu, kita tahu siapa kita: anak-anak Allah. Nilai kita tidak ditentukan oleh pengakuan manusia, melainkan oleh kasih karunia Tuhan. Di hadapan dunia kita mungkin bukan siapa-siapa, tetapi di dalam Kristus kita adalah milik-Nya.”
EDITOR GROWTH TOGETHER WITH CHRIST 7 JULI 2027 10.37 WIB