Pernahkah kita bertanya, mengapa Tuhan memakai kata garam?
Mengapa bukan sesuatu yang mahal, mewah, atau langka?
Garam begitu sederhana. Hampir setiap rumah mengenalnya. Kaya atau miskin, sejak dahulu manusia menggunakan garam dalam kehidupan sehari-hari.

Garam memberi rasa pada makanan.
Garam membantu menyeimbangkan rasa dengan bumbu-bumbu lainnya.
Garam telah digunakan sejak dahulu untuk mengawetkan makanan.
Dan pada garam beryodium, yodium yang ditambahkan membantu memenuhi kebutuhan yodium tubuh dan mencegah gangguan akibat kekurangan yodium, termasuk gondok.
Sesuatu yang begitu sederhana ternyata mempunyai begitu banyak kegunaan.
Lalu mengapa istri Lot menjadi tiang garam?

Dalam Kejadian 19, ketika Lot dan keluarganya dibawa keluar dari Sodom, perintah Tuhan melalui malaikat sangat jelas:
“Janganlah menoleh ke belakang.”
— Kejadian 19:17
Namun istri Lot menoleh ke belakang.
“Tetapi isteri Lot, yang berjalan mengikutnya, menoleh ke belakang, lalu menjadi tiang garam.”
— Kejadian 19:26
Mengapa garam?
Mengapa bukan tiang batu, pasir, atau sesuatu yang lain?
Alkitab tidak menjelaskan alasannya. Karena itu kita tidak dapat mengatakan dengan pasti mengapa Tuhan memilih garam.
Tetapi ada sesuatu yang menarik untuk direnungkan:
Garam mengawetkan.
Istri Lot seakan menjadi sebuah tugu peringatan yang “diawetkan” sepanjang generasi.
Dan ada pesan yang lebih keras di balik kisah ini:
Jangan abaikan apa yang Tuhan katakan.
Tuhan sudah berkata, “Jangan menoleh ke belakang.” Jangan sibuk bertanya why, atau mencari alasan: keluargaku masih di sana, rumahku di sana, kehidupanku masih di sana, atau apa pun yang membuat hati tetap terikat kepada kehidupan lama.
Kakinya memang sudah keluar dari Sodom, tetapi pandangannya kembali ke Sodom.
Berabad-abad kemudian Tuhan Yesus masih berkata:
“Ingatlah akan isteri Lot!”
— Lukas 17:32
Pesannya tetap berbicara sampai hari ini:
Jika Tuhan sudah membawamu keluar dari sesuatu, jangan biarkan hatimu terus tinggal di belakang.
Jangan hanya keluar dengan kakimu.
Keluarlah juga dengan hatimu.
Namun garam dalam Alkitab bukan hanya berbicara mengenai kisah istri Lot.
Dalam Imamat 2:13 kita menemukan garam perjanjian.
Dalam 2 Raja-raja 2:19–22, garam digunakan ketika Elisa melakukan tindakan simbolis saat Tuhan memulihkan air Yerikho. Kuasa penyembuhannya bukan berasal dari garam—Tuhanlah yang berkata, “Telah Kusehatkan air ini.”
Dan akhirnya Tuhan Yesus mengatakan kepada murid-murid-Nya:
“Kamu adalah garam dunia.”
— Matius 5:13
Di sinilah semuanya membawa kita kepada sebuah pertanyaan pribadi:
Jika kita adalah garam dunia, apakah kehadiran kita sudah memberi rasa?
JADILAH SEPERTI GARAM 🧂

Garam tidak perlu terlihat untuk memberi rasa.
Ia larut.
Ia tidak menonjolkan dirinya.
Tetapi kehadirannya terasa.
Ia tidak mengambil alih rasa bumbu yang lain, melainkan membantu menyeimbangkannya sehingga tercipta masakan yang nikmat.
Demikian pula hidup kita.
Tidak selalu harus menjadi yang paling terlihat, paling didengar, atau paling dipuji.
Cukuplah kehadiran kita memberi rasa, membawa kebaikan, menjaga yang baik agar tetap bertahan, dan melengkapi orang-orang di sekitar kita.
Seperti masakan sederhana yang dinikmati bersama dapat menghadirkan kehangatan di meja keluarga, biarlah kehadiran kita juga membawa damai dan kehangatan bagi keluarga serta lingkungan kita.
Garam memberi rasa.
Garam menyeimbangkan.
Garam mengawetkan.
Dan dalam kehidupan rohani, biarlah kita menjadi “garam” yang membawa pengaruh baik, pemulihan, damai, dan kehidupan kepada orang-orang di sekitar kita.
“Kamu adalah garam dunia.”
— Matius 5:13
Jadilah seperti garam.
Tidak harus terlihat, tetapi kehadirannya terasa.
Tidak mendominasi, tetapi memberi keseimbangan.
Tidak mengejar pujian, tetapi membawa perubahan.
Sederhana, tetapi membuat perbedaan. 🧂
Editor Team: Silky Ladies in Christ
Sunday Morning, 4 Oktober 2026
10.35 WIB